Selasa, 29 Oktober 2019

EKONOMI KREATIF PERTEMUAN KE 3 || Membangun Karya Kreatif

     Didalam menciptakan suatu ide kreatif banyak hal yang perlu dipertimbangkan, banyak saran yang perlu ditampung dan banyak unsur yang akan ikut membangun. Membangun sebuah ide kreatif didasari suatu permasalahan (Problem), kita harus coba temukan  masalah apa yang terjadi, termasuk apa yang dibutuhkan orang – orang di zaman ini, apa yang belum ada, apa yang kurang, apakah ini dibutuhkan, dan banyak pertanyaan lain yang mendasari suatu permasalahan tercipta. 

    Suatu karya yang dibuat dari adanya suatu permasalahan ataupun kebutuhan diharap mampu memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga target pasarnya adalah orang – orang yang memiliki permasalahan tersebut. 
Hasil gambar untuk ide kreatif adalah

            Hal berikutnya yang menarik adalah solusi. 
Hasil gambar untuk solusi
Pembahasan akan solusi ini masih luas dan mampu menampung segala macam masukan, agar sebelum berada di titik akhir keputusan sebelum mengeksekusi suatu karya, kita memiliki banyak pilihan. Penting juga bagi kita untuk memiliki Key Metrics, yaitu indikator – indikator yang menyatakan kinerja dari hasil karya kreatif kita, tentang bagaimana karya kita dinilai berjalan dengan baik dan bisa diperbaiki apabila belum berjalan seperti semestinya.
            Hal selanjutnya yang penting dari suatu karya adalah value, value akan menjadi alasan mengapa konsumen lebih memilih produk kita daripada produk yang lain. Kita harus menonjolkan apa yang lebih dan apa yang “beda” dari karya yang telah kita buat, sehingga dengan demikian celah kegagalan dalam pemasaran produk hasil karya kita semakin kecil, bahkan bisa dikatakan konsumen tidak memiliki pilihan lain dalam menentukan produk mana yang akan dia gunakan selain produk kita, padahal masih ada produk – produk lain yang sejenis. Maka menjadi hal penting bagi kita untuk meletakkan “value” didalam karya kita.
Hasil gambar untuk Value
Hasil gambar untuk DIJUAL            Kita juga tak boleh lalai dalam meletakkan unsur Unfair Advantage dalam karya kita, yaitu sesuatu dalam karya kita yang benar – benar tidak dimiliki oleh yang lain. Seperti halnya hak cipta, konten aktual, dan lain sebagainya, sehingga tidak hanya layak “dijual”, namun karya kita juga tidak bisa ditiru oleh orang lain, sebab dalam suatu karya, yang menjadikan suatu produk menjadi gagal adalah keengganannya untuk berkembang dan pada akhirnya karya ciptaannya ditiru bahkan dimodifikasi ataupun dimutakhirkan oleh orang lain. Kegagalan tersebut dapat dicegah dengan selalu membuka diri terhadap perkembangan dan kebutuhan konsumen, sehingga konsumen merasa selalu terlayani dengan adanya peningkatan – peningkatan dari karya yang kita “jual”.
Hasil gambar untuk membeli            Hal yang penting bagi kita dalam “menjual” karya kita adalah dengan memahami customer segment, yaitu siapa sasaran dari produk yang kita hasilkan ataupun siapa kemungkinan yang akan “membeli” dan menggunakan barang atau jasa kita. Sehingga dalam pembuatan ataupun pengembangan karya tersebut menjadi signifikan. Sehingga antara kita menciptakan suatu karya dengan tujuan kita “menjual” karya tersebut menjadi hubungan yang realistis, jangan sampai kita membuat suatu karya yang “waw” tetapi dalam pemasarannya menjadi tidak realistis hanya karena customer segment yang salah. Contohnya saja, untuk menjual kopi ke kafe – kafe, kita juga harus memikirkan bagaimana kopi itu “dikemas”, dengan nama, moto, dan banyak hal lain yang dibuat biasa – biasa saja dan sama seperti kopi – kopi pada umumnya, maka harga kopi kita menjadi sama dengan kopi di luar kafe dan tidak akan laku untuk dijual di kafe, bahkan meskipun unsur utama dari kopi itu sendiri yaitu rasa memiliki nilai lebih, namun “pengemasan” tetap menentukan harga. 

Hasil gambar untuk menjual
SALE
Gambar terkait            Selanjutnya setelah menentukan customer segment kita juga harus memiliki “channels”, yaitu “orang-orang” yang akan menjadi tempat kita “menjual” produk kita ataupun menjadi penghubung untuk kita. Kita harus menentukan dimana karya kita “dijual”, melalui siapa karya kita dipasarkan, dan bagaimana karya kita dipromosikan, sehingga proses karya hingga “terjua” menjadi jelas dan dapat diulang – ulang. Dan sebelum memulai produksi kita juga harus memikirkan tentang “Cost Structure”, yaitu tentang anggaran tentunya, tentang biaya riset dan lisensi, biaya produksi, biaya kantor, gaji karyawan, biaya marketing dan lain sebagainya, sehingga kita bisa menentukan seberapa banyak atau seberapa luas karya kita dapat dipasarkan. Cost Struktur juga membahas efisiensi, sehingga kita bisa menekan anggaran untuk produksi, dan menaikan anggaran untuk investasi yang lain seperti riset dan pengembangan, promosi atau periklanan dan lain sebagainya.
Hasil gambar untuk wowww
wow
            Hal terakhir yang akan kita bahas kali ini adalah bahwa kita harus memikirkan bagaimana perusahaan yang kita bangun memperoleh penghasilan. Perusahaan yang kita bangun membutuhkan Revenue Streams atau sumber penghasilan agar bisnis yang kita bangun bisa tetap hidup. Revenue stream bisa berasal dari layanan yang bersifat sekali bayar atau one fee project. Atau kita bisa mencontoh dari beberapa perusahaan jasa layanan yang mendapatkan penghasilannya, dari fee yang kita berikan, bahkan seakan – akan kita mendapatkan semua layanannya secara gratis, dia memanfaatkan sisi lain dari jasa layanannya yang lebih menghasilkan untuk meng-cover layanan yang lain, sehingga semua faktor biaya tetap teratasi, dan customer pun juga tetap melayani. Berniat? Makanya kerja keras!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar